Kamis, 27 Maret 2014

Sistem Informasi Pelestarian TAHURA (Taman Hutan Raya) Bukit Soeharto

Ø  Sistem pekiraan cuaca Iklim dan curah Hujan di TAHURA Bukit Soeharto

Didaerah TAHURA Bukit Soeharto memiliki iklim yg bersifat Klasifikasi iklim berdasarkan Schmidt dan Ferguson termasuk dalam tipe iklim “B” dengan nilai Q= 14,3  % s/d 33,3curah hujan rata- rata  10,42 mm dan hari hujan 7,92 hh sedangkan curah hujan tertinggi pada bulan November s/d bulan Mei.

Ø  Sistem Geologi dan Tanah  di daerah TAHURA Bukit Soeharto

Didaerah TAHURA Bukit Soeharto memiliki tanah yg bersifat Formalisasin Geologis batuan meosin atas dan batuan meosin bawah. Jenis tanah organasol, Glei Humus, Podsolik merah kuning dan komplek podsolik merah kuning, latasol dan litasol dengan bahan induk aluvial , batuan beku dan endapan serta metamor dengan fisiografi lapangan berbukit, pengunungan lipatan dan pegunungan patahan.

Ø  Sistem pelestarian Flora di TAHURA Bukit Soeharto

Kawasan Taman Hutan Raya Bukit Soeharto pada saat ini telah berubah sebagai ekosistem hutan tanaman yang merupakan upaya rehabilitasi dengan berbagai jenis tanaman seperti Acasia (Acasia mangium), Sengon (Albasia sp.), Mahoni (Swietenia mahagoni spp), flora asli yang didominasi jenis Meranti (Shorea sp.), dan sebagian merupakan hutan penelitian berupa persemaian berbagai jenis flora seperti Mahang (Macaranga hypoleuca), diantaranya jenis dilindungi seperti Ulin (Eusideraxylon zwageri), Kayu arang (Diospyros sp.), dan Kempas (Koompassia malaccensis), Palaman (Iristania spp), Resak (Vatica spp), Bayur (Pterospermum spp), Gmelina (Gmelina arborea), Karet (Havea brasiliensis), Rotan (Calamus sp), Aren (Arenga catechu), Ketapang (Terminalia catappa). Meranti yang dalam bahasa ilmiah disebut ( shorea sp ), Keruing (Dipterocarpus sp), Mahang (Hypoleuca), dll

Ø  Sistem Pelestarian Fauna di TAHURA Bukit Soeharto

Di Fasilitas rehabilitasi Pusat Reintroduksi Orang Utan Wanariset Samboja terdapat rehabilitasi berbagai macam satwa seperti Orang Utan (Pongo Pygmaeus), Beruang Madu (Helarctros malayanus), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Landak (Hystrix brachyura), Owa-Owa (Hylobates muelleri), Burung Enggang (Buceros rhinoceros), Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis), Trenggiling (Manis javanica), Rusa Sambar (Cervus unicolor), Kuau Besar (Lophura sp), Biawak (Varanus salvator), Tupai (Tupaia sp), Musang (Cynogalesp), Babi Hutan (Sus sp), Cucak Rawa (Pycnonotus zeylanicus).

Ø  Sistem Pelestarian hutan di daerah TAHURA Bukit Soeharto

1)      Melakukan Reboisasi.
Reboisasi adalah salah satu alternatif untuk melestarikan hutan. Kita dapat menanam kembali hutan – hutan yang sudah rusak, sehingga hutan akan tetap terjaga keberadaannya.

2)      Menerapkan Sistem Tebang Pilih.
Pemerintah harus menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon. Hal ini dapat mengurangi penebangan hutan secara liar dan dalam jumlah besar – besaran. Selain itu system ini juga berguna untuk masyarakat agar tidak sembarang dalam melakukan penebangan hutan.

3)      Menerapkan Sistem Tebang – Tanam.
System ini sangat berguna bagi pelestarian hutan. Sistem penebangan hutan yang kemudian diganti dengan menanam hutan yang telah ditebang agar hutan tetap terjaga keberadaannya.

4)      Melakukan Penebangan secara Konservatif.
Penebangan secara konservatif adalah penebangan dengan cara menebang pohon yang sudah tidak berproduktif lagi. Jangan sampai pohon yang masih muda dan produktif di tebang.

5)      Menerapkan Larangan Penebangan Hutan Secara Sewenang – wenang dan Memberikan Sanksi yang Berat Bagi Pelakunya.
Selain masyarakat yang harus menjaga kelestarian hutan, pemerintah juga harus ikut terlibat dalam pelestarian hutan. Pemerintah harus ikut turun tangan dalam pelestarian hutan ini. Sebaiknya, pemerintah juga memberikan sanksi yang berat bagi para pelakunya, yang bisa membuat mereka jera dan tidak melakukan kesalahan mereka lagi.

Kelemahan yang ada dalam sistem pelestarian TAHURA Bukit Soeharto antara lain :

  • Adanya oknum yang sering menggunakan lahan untuk berkebun, pemukiman, warung-warung, serta restoran, oleh masyarakat 
  • Illegal logging ( Penebangan liar )
  • Illegal mining ( pertambanagan liar )
  • Kebakaran Hutan 
  • Adanya pengunaan kawasan diluar kepentingan kehutanan contohnya jalan penghubung antar desa, pembutan sekolah, kantor lurah, dll


Solusi :
Pentingnya menurut kami kesadaran bagi setiap oknum baik masyarakat dan instansi yang bertanggung jawab untuk menjaga lingkungan TAHURA, agar lingkungan TAHURA senantiasa dapat terjaga kelestarian dan tetap selalu ada untuk dinikmati anak dan cucu kita kelak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar